Hit enter after type your search item

Canting Raja Kembalikan Batik ke Asalnya

/
/

Jika bicara , mungkin yang pertama kali terpikir adalah kain dengan motif dan corak khas Indonesia. Tapi tahukah kamu kalau tidak semua kain becorak khas Indonesia belum tentu bisa disebut batik?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kain batik adalah kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain. Ada pula kain batik cap yang dibuat dengan alat cap bermotif khusus.

Sayangnya, kini banyak beredar di pasaran batik printing atau batik cetak yang diproduksi secara masal. Dari sisi harga, biasanya ditawarkan dengan harga yang terbilang murah. Padahal ini jelas-jelas mengancam keberadaan para pengrajin batik di seluruh nusantara. Produk batik yang sedianya dibuat dengan tangan dan tingkat kesulitan yang tinggi, digantikan dengan batik buatan mesin dengan harga yang murah.

Baca juga: 

Hal ini juga yang menjadi perhatian dari Hengky Susanto, desainer dan pemilik brand . Sebagai orang yang berkecimpung di industri batik, ia juga prihatin dengan maraknya batik print. Salah satu upayanya untuk mempertahankan eksistensi batik lokal dengan menginovasikan batik tulis dan cap dengan desain yang modern sehingga diminati oleh banyak orang. Ia percaya bahwa edukasi tentang batik perlu diberikan untuk masyarakat.
Banyak orang yang nggak mengerti kenapa kita jual baju Rp300.000, sementara ada yang jual 100.000. Awareness itu yang harus ditularkan ke masyarakat luas. Bahwa batik memang masih bersifat manual,” ujar Hengky. Hadirnya batik print dengan harga yang murah di satu sisi disukai masyarakat, namun ironisnya justru mengancam keberadaan para perajin yang melestarikan .

Ciptakan Identitas

Lahir di Pekalongan, 5 September 1974, Hengky sedari dulu memang sudah akrab dengan batik. Brand Canting Raja yang dibangunnya enam tahun lalu memang berfokus pada pakaian ready to wear yang mengangkat keindahan kain nusantara secara modern. Agar lebih stand out, produknya memiliki ciri khas yang berupa mix and match dari dua material yang berbeda.
“Contohnya ada tenun yang ditabrak dengan batik. Atau justru batik ketemu lurik. Itulah karakter yang kami mau usung,” ungkapnya. Menurut Hengky ini dimaksudkan untuk memberi kesan desain yang lebih dinamis dan melayani kebutuhan konsumennya yang beragam. Produknya diciptakan untuk wanita semua usia yang menghargai keindahan batik dan dihargai mulai dari Rp350.000.
Selama 6 tahun berjalan, diakui Hengky, ia menggunakan beragam kain dari seluruh nusantara. Kain-kain tersebut yang kemudian diolahnya menjadi koleksi Canting Raja. Secara umum, ia juga banyak menggunakan kain dengan warna-warna yang lembut. Tak hanya bekerja sama dengan perajin, ia juga memperkaya produknya dengan menciptakan motif khusus.

Berusaha Konsisten

Membangun usaha dengan para perajin diakui Hengky juga penuh tantangan. Batik yang dibuat secara handmade seringkali sulit untuk konsisten, dari segi warna maupun kualitas. “Kadang perajin hanya berpikir agar barangnya cepat jadi, dan bisa segera jadi uang. Akhirnya konsistensi produk nggak bisa dijaga dengan baik,” tukasnya. Oleh karena itu Hengky yang tergabung di beberapa yayasan dan organisasi UKM giat berusaha membimbing para perajin untuk menjaga konsistensi batiknya. “Karena kalau nggak konsisten agak sulit untuk kita sebut sebagai produk unggulan,” ujarnya.

Baca juga: 

Dengan menjaga kualitas produk sebaik mungkin, Hengky berkomitmen untuk memberikan kepuasan bagi konsumennya. Ia juga berharap agar masyarakat kian terbuka pikirannya dalam menenentukan pilihan khususnya terkait batik. Jangan sampai pada akhirnya kerajinan batik yang sesungguhnya justru punah karena bangsanya sendiri. “Canting itu adalah alat untuk membatik, yang saat ini sangat-sangat sedikit orang ketahui. Saya mengangkat Canting Raja sebagai filosofi bahwa semoga nama kami bisa menjadi produk unggulan, produk percontohan dan menjadi raja diantara canting-canting yang lainnya,” tutupnya.

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Pinterest
This div height required for enabling the sticky sidebar